Langit senja menyelimuti Kota Zhurong dengan rona kemerahan yang memantulkan cahaya keemasan pada genteng-genteng tua dan jalanan berbatu. Suasana pasar masih hidup, hiruk-pikuk para pedagang menggemakan teriakan tawar-menawar dan dentingan logam saat bilah-bilah pedang dan senjata eksotis diperlihatkan. Bisnis senjata memang berkembang pesat di kota ini—pertarungan antar pendekar dan sekte membuat bilah pedang menjadi kebutuhan yang tak pernah surut.

Narendra melangkah dengan tenang di antara kerumunan, diiringi Kael yang tampak gelisah. Namun, langkah Narendra terhenti saat melihat sahabatnya mendadak pucat, tatapan Kael kosong seolah menyaksikan hantu dari masa lalu.

"Kael, ada apa? Kau terlihat tidak baik," tanya Narendra dengan alis mengerut, nada khawatir tersirat dalam suaranya.

Kael mengerjap, seolah baru terbangun dari lamunan yang dalam. Ia menghela napas panjang, memaksakan senyum tipis. "Tidak, aku hanya salah melihat seseorang. Kupikir dia... Ah, lupakan saja. Ayo, kita lanjutkan."

Kael melangkah cepat, pikirannya masih terbayang sosok wanita yang dilihatnya. Sosok wanita yang sangat dikenal baik olehnya di dimensi tempat asalnya.

"Tidak mungkin dia ada ditempat ini. Tidak ada yang mengetahui lokasi keberadaan kami disini." Batinnya.

Narendra mengangguk meskipun keraguan masih membayang di benaknya. Ia mengikuti langkah Kael yang semakin cepat, meninggalkan hiruk-pikuk pasar.

Di sudut lain pasar, Arkha memperhatikan sederet pedang dan tombak dengan mata tajam. Jari-jarinya menyentuh permukaan dingin logam saat ia menilai keseimbangan dan ketajaman setiap senjata. Pertarungan sebelumnya membuat pedangnya patah, dan ia butuh pengganti yang sepadan.

Tiba-tiba, seseorang menabraknya dengan cukup kuat hingga orang tersebut terjatuh. Arkha berbalik, pandangannya tajam menatap seorang wanita berwajah cantik namun tampak licik.

"Kau baik-baik saja? Berhati-hatilah saat berjalan," ucap Arkha dengan nada datar, tatapannya tetap dingin.

"Aduh, sakit sekali. Pria sepertimu sungguh tega pada seorang wanita lemah," keluh wanita itu, suaranya manja namun mengandung kelicikan yang tersembunyi.

Tiba-tiba, wanita itu mengerang lebih keras dan memekik, "Lihatlah semua! Pria ini menjatuhkanku lalu meninggalkanku begitu saja!"

Beberapa pasang mata berbalik menatap Arkha dengan tatapan menghakimi. Rahangnya mengeras. Menghindari masalah di tempat umum bukanlah gayanya, tapi ini bisa menjadi masalah besar jika dibiarkan. Dengan satu gerakan cepat, Arkha menarik tangan wanita itu, membantunya berdiri.

"Bangunlah. Jangan membuat keributan," ujarnya tajam.

Namun, ketika mata mereka bertemu, seberkas cahaya aneh berkilat di mata wanita itu. Wajah Arkha mendadak kosong, tatapannya hampa.

Wanita itu tersenyum tipis, aura licik terpancar dari wajahnya. "Baguslah. Ikutlah denganku," perintahnya, suaranya seakan berbisik langsung ke dalam pikirannya.

Tubuh Arkha bergerak mengikuti wanita itu tanpa perlawanan, langkahnya berat dan kaku seolah dikendalikan benang tak kasat mata.

Wanita itu menoleh sedikit, sudut bibirnya terangkat dalam seringai penuh arti. "Aku melihatmu berjalan dengan Kael sebelumnya. Kelihatannya, kau akan sangat berguna."

***

"Apa yang mereka bicarakan?" bisik Lala pelan,, matanya melirik waspada ke arah ruang pertemuan yang baru saja mereka masuki.

"Aku tidak tahu," jawab Ling Mei pelan. "Mereka memasang penghalang pelindung. Aku bahkan tak bisa mendengar desahan napas mereka."

Semua tatapan mata yang berkumpul dalam ruangan itu segera tertuju pada Lynx, yang telah kembali ke tempat duduknya. Rasa ingin tahu dan ketegangan menguasai mereka. Benarkah leluhur mereka telah melihat sosok misterius dalam pakaian aneh itu?

Setelah semua berkumpul, Leluhur akhirnya membuka suara, suaranya dalam dan penuh wibawa. "Kesalahpahaman kita terhadap Plasura telah diluruskan. Kita berhutang budi padanya. Mulai sekarang, bekerjasamalah dengannya untuk menemukan pembunuh Ketua Sekte."

Desahan lega terdengar serempak. Ling Mei, Lala, dan para tetua lainnya tampak lebih tenang. Kekhawatiran jika harus berhadapan dengan seseorang yang mampu mengalahkan Leluhur kini sirna, berganti dengan rasa syukur karena memiliki sekutu yang kuat.

Namun, keheningan segera menyelimuti ruangan. Tidak ada yang berani berbicara lebih dulu, dan suasana tegang perlahan mereda. Setelah beberapa saat yang terasa lama, Tetua Luan akhirnya maju dengan langkah penuh hormat. Ia membungkuk dalam-dalam, menunjukkan sikap bakti.

"Leluhur, salah satu anggota kita yang baru kembali membawa informasi penting tentang pertandingan di Kerajaan Qingxuan. Apakah Leluhur ingin mendengarnya sekarang, atau lebih baik nanti?" ucap Tetua Luan sambil melirik sekilas ke arah Lynx, seolah menakar apakah sosok asing itu layak mendengar informasi rahasia.

Leluhur menatap tajam sesaat sebelum mengangguk mantap. "Panggillah. Mungkin tamu penolong kita juga perlu mendengarnya."

Pertarungan di Kerajaan Qingxuan bukanlah hal baru. Untuk mencegah peperangan besar yang bisa mengguncang dunia dan meruntuhkan tatanan antar kerajaan serta benua, tradisi pertandingan para pemuda diciptakan—sebuah ajang adu kekuatan yang diadakan setiap sepuluh tahun sekali. Dengan begitu, ambisi dan dendam bisa diselesaikan dalam arena, bukan di medan perang yang penuh darah dan kehancuran.

Kerajaan biasanya mengundang langsung para ahli muda yang dianggap layak, namun kesempatan juga terbuka bagi mereka yang berhasil melalui seleksi ketat setiap tiga tahun sekali. Syaratnya hanya satu—usia maksimal tiga puluh tahun pada saat pertandingan antar kerajaan atau benua dimulai.

Tak lama kemudian, seorang murid berusia tiga puluhan datang dengan langkah tergesa, wajahnya serius. Ia segera memberi hormat dengan menunduk dalam-dalam.

"Salam, Leluhur. Pertarungan para pemuda antar kerajaan yang dijadwalkan tahun depan di Kerajaan Qingxuan kali ini mengalami perubahan besar."

Semua yang hadir memasang telinga dengan saksama, perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada sang murid.

"Peraturan pertandingan tetap sama, tetapi hadiahnya berbeda dari biasanya. Kerajaan lain mengusulkan agar pemenang mendapatkan hak untuk menyimpan Fragmen Senjata Iblis. Mereka beranggapan bahwa kekuatan pemenang menandakan kemampuan untuk menjaga fragmen tersebut dan mencegah kebangkitan kekuatan iblis yang dapat menghancurkan kerajaan."

Leluhur menyipitkan mata, ekspresinya berubah serius. Pikirannya melayang pada masa lalu. Ia meninggalkan sekte ini tak lama setelah pertandingan terakhir dan tak menyangka kerajaan lain akan memanfaatkan turnamen kali ini untuk mengincar fragmen berbahaya tersebut.

"Bagaimana tanggapan Raja kita?" tanya Leluhur, suaranya rendah namun penuh wibawa.

Murid itu menjawab dengan penuh hormat, "Raja kita menolak usulan itu. Beliau menyatakan bahwa masalah Fragmen Senjata Iblis adalah urusan para kultivator, bukan pihak kerajaan. Oleh karena itu, seorang raja tidak dapat memutuskan sepihak tentang fragmen tersebut."

Leluhur mengangguk perlahan. "Itu keputusan yang bijak."

Namun, murid itu kembali berbicara, nada suaranya sedikit lebih tegang. "Meskipun demikian, kerajaan-kerajaan lain tetap bersikeras. Mereka mengajukan syarat baru—kerajaan yang menang harus mengizinkan pihaknya memasuki wilayah Qingxuan untuk mencari Fragmen Senjata Iblis, dan pihak kerajaan tidak boleh ikut campur."

Wajah para tetua mengeras, tangan mereka mengepal. "Itu terlalu sepihak! Mereka ingin menggunakan turnamen ini sebagai dalih untuk menyusup dan menjarah negeri kita!"

Leluhur menatap lurus ke arah murid itu. "Lalu, apa yang kita dapatkan jika kita menang?"

Murid tersebut menjawab, "Jika Kerajaan Qingxuan menang, kita akan diizinkan memasuki kerajaan lain tanpa batasan, bebas bertindak sesuai keinginan kita. Selain itu, kerajaan pemenang juga akan diberikan seluruh token pertandingan antar benua."

Mata Lynx menyipit mendengar hal itu. "Jadi, jika kita menang, tuan Zhen bisa menggerakkan anggotanya memasuki wilayah lain lebih leluasa untuk membantuku mencari informasi tentang Penduduk Surya..." pikirnya dalam hati.

Para tetua pun tampak bersemangat, mata mereka berkilat penuh ambisi.

"Jika kita menang, kita dapat mengakses dunia-dunia kecil dalam wilayah kerajaan lain tanpa hambatan, mengumpulkan sumber daya langka yang selama ini sulit dijangkau."

"Dan dengan hak penuh atas token pertandingan antar benua, sekte kita dapat mengirim lebih banyak murid berbakat, meningkatkan kekuatan kita di seluruh dunia."

Mendengar semua keuntungan itu, suasana yang semula tegang kini dipenuhi antusiasme yang mendidih. Kesempatan ini terlalu berharga untuk dilewatkan.

Namun, ekspresi Leluhur tetap muram. Pembunuh putranya masih buron, sementara kerajaan lain hendak menginjakkan kaki di wilayah Qingxuan. Sebagai sekte terkuat di kerajaan ini, mereka memiliki kewajiban untuk mempertahankan kehormatan dan keamanan tanah kelahiran mereka.

"Mereka pasti telah merencanakan sesuatu. Tidak mungkin mereka mengusulkan hadiah sebesar ini tanpa maksud tersembunyi," gumam Leluhur dengan nada penuh pertimbangan.

Ia kemudian mengalihkan pandangan pada Lynx, tatapannya dalam dan penuh makna.

"Plasura, kau sudah mendengar semuanya. Apa pendapatmu?" Leluhur bertanya, suaranya tegas namun menguji.

Semua mata kini tertuju pada sosok misterius itu, menunggu jawaban yang mungkin bisa mengubah arah nasib mereka.

Leluhur sekte awalnya sempat berpikir bahwa jika pemuda misterius di depannya ini ikut bertanding, kemenangan akan menjadi kepastian bagi Kerajaan Qingxuan. Namun, setelah teringat bahwa kekuatan Lynx hanya berada pada tingkat Forging Qi tahap dua, pikiran itu segera disingkirkan. Mengandalkan artefak di hadapan banyak orang hanya akan membuat banyak pihak mengincarnya. Leluhur menghela napas panjang dalam hati. "Menggunakan artefak di depan umum hanya akan menarik keserakahan dunia," batinnya muram.

